Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Startup Baru
Startup baru sering kali lahir dari ide besar dan semangat tinggi, tetapi justru tersandung di pengelolaan keuangan. Fokus mengejar pertumbuhan, produk, atau pengguna membuat aspek finansial kerap dianggap bisa menyusul belakangan.
Padahal, kesalahan kecil dalam mengatur uang sejak awal, seperti salah kelola arus kas atau mencampur keuangan pribadi dan bisnis—bisa berdampak besar pada keberlangsungan startup. Memahami kesalahan finansial yang sering terjadi menjadi langkah penting agar startup tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dengan lebih sehat dan terarah.
Berdasarkan pengalaman kami dalam mendampingi beberapa startup tahap awal, masalah terbesar jarang ada di ide—melainkan di pengelolaan keuangan. Bahkan startup dengan produk bagus bisa tumbang jika salah mengelola uang sejak awal.
Artikel ini membahas kesalahan finansial yang paling sering dilakukan startup baru, lengkap dengan contoh nyata dan cara menghindarinya. Jika Anda sedang membangun startup atau berencana memulai, ini adalah bacaan yang sangat relevan.
Mengapa Kesalahan Finansial Sering Terjadi di Startup?
Startup hidup di lingkungan yang serba cepat, penuh tekanan, dan sering kali minim pengalaman finansial. Banyak founder berasal dari latar belakang produk atau teknologi, bukan keuangan.
Menurut laporan CB Insights (2021), sekitar 38% startup gagal karena kehabisan uang atau salah mengelola cash flow, bukan karena produk tidak laku. Ini menunjukkan bahwa kesalahan finansial adalah faktor kegagalan yang sangat nyata.
Pandangan pribadi:
Saya sering melihat founder fokus ke growth dan branding, tapi lupa satu hal sederhana: “berapa lama runway uang kita?”
1. Tidak Memisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis
Ini kesalahan klasik, terutama di tahap awal.
Banyak founder:
- Menggunakan rekening pribadi untuk bisnis
- Mengambil uang bisnis tanpa pencatatan
- Membayar kebutuhan pribadi dari kas startup
Yang akan mengakibatkan beberapa kerugian pada usaha:
- Sulit tahu kondisi keuangan sebenarnya
- Laporan keuangan jadi tidak valid
- Sulit dipercaya investor
Penelitian di Journal of Small Business Management (2020) menyebutkan bahwa pemisahan keuangan adalah indikator awal profesionalisme dan keberlanjutan bisnis.
Contoh nyata:
Startup jasa digital terlihat untung, tapi setelah dipisahkan, ternyata bisnis justru rugi karena banyak biaya pribadi tercampur.
2. Salah Mengelola Cash Flow (Bukan Sekadar Untung Rugi)
Startup bisa terlihat “untung di laporan”, tapi tetap bangkrut karena cash flow buruk.
Kesalahan umum:
- Fokus ke omzet, bukan arus kas
- Banyak piutang tapi kas kosong
- Biaya dibayar lebih cepat dari pemasukan
Menurut Harvard Business Review (2018), manajemen arus kas adalah tantangan terbesar bisnis baru, bahkan lebih penting dari profit jangka pendek.
Praktik yang sering terjadi:
- Klien bayar 60 hari
- Gaji dan operasional harus dibayar tiap bulan
- Jika tidak dihitung, startup bisa kehabisan uang di tengah jalan.
3. Terlalu Cepat Membakar Uang (Overburning Cash)
Istilah “burn rate” sering dianggap normal di startup. Tapi banyak yang lupa menghitung batas aman.
Kesalahan yang sering saya temui:
- Rekrut tim terlalu cepat
- Sewa kantor mahal terlalu awal
- Tools berlangganan tanpa evaluasi
Padahal, menurut Startup Genome Report (2022), startup yang gagal sering menghabiskan dana 2–3 kali lebih cepat dari rencana awal tanpa validasi yang cukup.
Contoh praktis:
Startup pre-revenue sudah punya 10 karyawan. Setelah 6 bulan, dana habis sebelum produk matang.
4. Tidak Punya Perencanaan Keuangan yang Jelas
Banyak startup berjalan tanpa:
- Anggaran tahunan
- Proyeksi keuangan
- Target finansial realistis
Akibatnya:
- Keputusan diambil reaktif
- Sulit mengukur performa
- Investor ragu dengan arah bisnis
Penelitian di Journal of Entrepreneurial Finance (2021) menunjukkan bahwa startup dengan perencanaan keuangan sederhana sekalipun memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi.
Catatan dari pengalaman:
Tidak perlu rumit. Bahkan proyeksi sederhana 12 bulan sudah sangat membantu.
5. Menetapkan Harga Tanpa Hitung Biaya Sebenarnya
Banyak startup menetapkan harga berdasarkan:
- Kompetitor
- “Biar murah dulu”
- Asumsi tanpa data
- Yang sering dilupakan:
- Biaya operasional
- Biaya tim
- Biaya pemasaran
- Pajak
- Akibatnya, produk laku tapi bisnis rugi.
Contoh nyata:
Startup F&B ramai pelanggan, tapi margin negatif karena salah hitung food cost dan overhead.
Menurut International Journal of Pricing Strategy (2019), kesalahan pricing adalah penyebab utama kegagalan profitabilitas startup awal.
6. Mengabaikan Pajak dan Kewajiban Legal
Startup sering menunda urusan pajak dengan alasan:
- “Masih kecil”
- “Nanti saja kalau sudah besar”
Padahal:
- Denda dan sanksi bisa menumpuk
- Investor sangat memperhatikan kepatuhan pajak
Kesalahan umum:
- Tidak lapor pajak tepat waktu
- Tidak paham pajak yang relevan
- Tidak menyimpan bukti transaksi
- Ini bukan hanya risiko finansial, tapi juga risiko hukum.
7. Tidak Menggunakan Data Keuangan untuk Keputusan
Laporan keuangan ada, tapi tidak pernah dibaca.
Akibatnya:
- Keputusan berdasarkan feeling
- Tidak tahu produk mana yang untung
- Tidak sadar biaya membengkak
Menurut MIT Sloan Management Review (2020), organisasi berbasis data memiliki kualitas keputusan yang lebih baik dibanding yang mengandalkan intuisi.
Startup seharusnya lebih lincah, bukan lebih nekat.
Cara Menghindari Kesalahan Finansial Sejak Awal
Beberapa langkah praktis:
- Pisahkan rekening pribadi dan bisnis
- Pantau cash flow mingguan
- Buat proyeksi keuangan sederhana
- Evaluasi burn rate secara rutin
- Konsultasi dengan pendamping keuangan
- Langkah kecil di awal bisa mencegah masalah besar di belakang.
Uang Bukan Segalanya, Tapi Bisa Menghentikan Segalanya
Kesalahan finansial sering bukan karena founder tidak pintar, tapi karena kurang pendampingan dan kesadaran sejak awal. Startup yang sehat bukan yang paling cepat tumbuh, tapi yang paling mampu bertahan.
Langkah Selanjutnya:
- Cek kondisi keuangan startup Anda hari ini
- Hitung runway dengan jujur
- Evaluasi keputusan berbasis data, bukan asumsi
Jika Anda sedang membangun startup dan:
- Bingung mengatur keuangan
- Takut salah ambil keputusan
- Ingin siap sebelum bertemu investor
Pendampingan keuangan sejak awal adalah investasi, bukan biaya.
Bangun startup Anda dengan pondasi finansial yang kuat, agar ide hebat Anda benar-benar punya masa depan.
